Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Friday, June 26, 2020

Mimpi

Kita bertemu pagi itu

Dalam suasana yang aduhai syahdu

Kau menatapku penuh rindu dan cinta

Jangan tanya rasa di dada

Tak bisa kugambarkan

 

Ku berhenti sejenak menatapmu tak percaya

Engkau masih dengan pesona yang sama

 

Tapi bahkan dalam bahagiaku aku tau

Pertemuan kita pagi itu hanyalah mimpi semu

Aku – entah bagaimana caranya - selalu berhasil mengingat

Sejatinya dunia kita berbeda

Tak mengapa

 

Kuteruskan mimpi pagi itu

Meski semu, mimpi bersamamu selalu indah buatku

 

…….

Kendari, 25 Juni 2020

Thursday, June 25, 2020

Gurau

Padamu yang selalu mencandai kehidupan

Yang selalu membalut kata dengan tawa

Hingga menjadi samar kebenaran dan gurauan

 

Berhentilah! Tersebab gurau yang kau anggap biasa

Ada harap yang menguat lalu menguap

Ada hati yang membuka lalu luka

Tidak kah sedikit saja kau rasa iba?


...
Kendari, 25 Juni 2020

Thursday, March 22, 2018

Tentang Kamu - 2

Malam sudah cukup larut
Kantuk belum mendatangiku
Kita berbaring bersisian, engkau di kananku
Selalu begitu
Biar aku selalu bisa memelukmu
Aku belum lagi usia belasan ketika itu

Sekelebatan pikiran mampir di kepala:
Bagaimana jika engkau meninggal?
Kututup mataku kuat, berharap pikiran buruk itu segera minggat
Kupeluk engkau sangat erat, hingga engkau berbalik, mungkin tak nyaman
Kubenamkan wajah di punggungmu yang hangat
Sembari terus berdoa engkau diberi umur panjang & selalu dilindungi Allah
Ketakutan menemaniku cukup lama
Malam itu tidurku tak pulas
...

Puluhan tahun kemudian ketakutan itu kembali dengan kadar yang jauh jauh lebih besar
Kali ini bukan sekedar kelebatan pikiran, ini kenyataan
Entah kemana teriakanku di malam berita kepergianmu sampai di telinga
Tangisku tanpa suara
Ada sedih yang tak bisa kulepas hanya dengan tangisan
Kuredakan takutku: kubayangkan hangat punggungmu dengan wajahku menempel disana
Sembari berdoa engkau selalu dilindungi, disayangi, dirahmati Allah.
...
Labungkari, 22 Maret 2018

Wednesday, March 21, 2018

Kepada Para Tikus

Ketika engkau, perlahan, menggerogoti harta negara
Ketika engkau mengambil sesuatu yang kamu tak berhak atasnya
Tidakkah terbayang wajah tanpa dosa anak yang semalam pulas disampingmu?
Anak yang selalu engkau jadikan alasan untuk memenuhi kerakusanmu
Tidakkah teringat nasib istrimu kelak jika busukmu tercium?
Istri yang tak malu-malu engkau jadikan tumbal ambisimu
Tidakkah terlintas Tuhan di benakmu?
Tuhan yang selalu engkau salahkan ketika hal buruk menimpamu

Jangan pernah membawa-bawa nama anak, nama istri, nama Tuhan ketika dosamu tersingkap!
Jangan!!
Karena ketika engkau melakukannya tak sekalipun engkau mengingat mereka!
......

Bone, 1 Maret 2018

Wednesday, January 3, 2018

Setahun Pergimu

Setahun lalu
Dini hari di kota itu
Berkilo-kilo meter darimu
Aku masih terjaga memandangi laptop dengan hati tak tentu

Aku tahu engkau sedang berjuang melawan sakitmu
Tapi aku tak bergegas pulang padamu
Kupikir ketika tugas negara ini selesai aku masih bisa menemui senyummu
Berada di sisimu, memegang tanganmu meski itu tak meredakan sakitmu

Dan ketika kembali, aku tak menemukan senyummu
Tak mendapat pelukanmu
Tak mendengar tawa senangmu
Yang biasanya menyambutku tiap kali aku ke rumah itu

Kali ini engkau menyambutku sembari tertidur
Dengan selembar kain menutupi sekujur tubuhmu
Sungguh ketika itu aku berharap itu bukan engkau
Aku berharap hanya sedang bermimpi buruk dalam tidurku

Ah betapa penyesalan itu sangat pahit
Dan menahan tangis itu sangat sakit
Dan semua itu tak merubah kenyataan:
Kita berada pada dunia berbeda

Setahun lalu
Dini hari di kota itu
Berkilo-kilo meter darimu
Separuh hatiku pergi bersamamu
....

Setahun berlalu
Aku tetap merindu
Hanya bisa menitipkanmu pada Allah Sang Pemilik Kehidupan
Semoga doa-doaku untukmu diterima-Nya
....
Jakarta, 5 Oktober 2017

Saturday, October 22, 2016

Tentang Kamu

Bahagia itu
Ketika aku berada dekatmu
Memelukmu erat ketika malam terlalu pekat
Dan merasakan hembusan nafasmu di telinga

Marah itu
Ketika engkau sakit keras
Dan seseorang berkata dengan tenangnya
Engkau bukan sesiapa

Luka itu
Ketika aku berada terlalu jauh
Untuk sekedar memelukmu
Ketika engkau mengerang kesakitan

Tenang itu
Ketika aku tau
Engkau tak terlalu berlama dengan derita
Dan pergi dengan lafadz Allah di bibirmu

Ya aku tau
Ketentuan Allah atasmu terbaik buatmu dan buatku
Tapi izinkan aku sedikit saja menyembabkan mata
Ketika ingatan tentangmu datang dan rinduku membuncah
......
Kendari, 22 Oktober 2016

Tuesday, February 9, 2016

Saling Cemburu

Aku mencemburui rumput hijau
Yang tumbuh subur, tertata rapi di halaman rumahmu
Bahkan ketika kutau tak akan pernah memilikinya
Tidak ketika rumahku tak berhalaman

Kamu mencemburui berjenis bunga yang bergelantungan di teras rumahku
Yang ketika mekar wanginya semerbak hingga ke inderamu
Bahkan ketika kamu tau tidak akan pernah memilikinya
Tidak ketika kamu tak menyempatkan waktu menanam memeliharanya
.....

Pangkalpinang, Februari 2016

Wednesday, October 15, 2014

Jika Bahagia Mengapa

Pada Burung Hantu berkata Sang Elang
Dengan gaya pongah, dagu terangkat
Berhentilah merindukan bulan
Dia semata milik malam
Lihat betapa bahagianya aku
Dengan istri dan anak-anakku
Tidakkah kau ingin sepertiku?

Mengangguk kelu Burung Hantu
Semua kata Sang Elang benar adanya
Tapi tak perlu semua, selain dirinya, mengerti tentang Sang Bulan
Mereka hanya melihat apa yang ditampakkan mata
Hanya mendengar yang tertangkap telinga
Dalam hati dijawabnya tanya retorik Sang Elang
Makhluk mana kiranya yang tak ingin bahagia?
.......

Jika bersama Elang Betina benar membuatmu bahagia
Jika memiliki anak-anak sungguh membuatmu bersuka
Mengapa masih kau hadirkan Nuri di harimu?
Mengapa biarkan Merak membersamaimu?
Dan berkali Burung Hantu mengutuk dirinya
Atas pengecutnya
Hanya menggumamkan itu di hati saja
.......



Saturday, September 6, 2014

Untukmu Pemuda

Bangsa ini sedang sakit parah
Terseokseok karena lukanya
Jangan melihatnya dari luar
Karena dia tampak segar bugar
Dibalut pakaian dan perhiasan mahal
Yang dibelinya dari berutang
Lihat tingkah lakunya, cara berpikirnya, moralnya
Dia sedang sekarat

Rasa malu, entah bagaimana, beranjak menguap
Hampir semua sudut aurat terumbar
Telapak tangan selalu tertengadah
Kreatifitas kejahatan meningkat
Mengambil hak orang lain bukan hal langka
Terjadi dimana-mana
dalam berbagai bentuk rupa

Tak hanya kau lihat di kota
Pun di pelosok desa
Tak hanya dilakukan petinggi negara
Pula masyarakat biasa
Terangterangan
Berjamaah

Ketika kau, wahai pemuda, hanya menambah sakit dan membuat luka itu semakin parah
Dengan sikapmu yang kekanakan, langkahmu yang penuh kesombongan
Otak yang tak kau gunakan berpikir panjang,
mata yang terbelalak tapi tak melihat tak membaca
Mampukah bangsa ini melewati masa kritisnya?

Sibuk kau salahkan para tetua
Atas ketakmampuan mereka menjadikanmu manusia
Sibuk kau salahkan pemerintah dan negara
Atas ketidakadilan dan kesewenangwenangan yang katanya kau rasa
Tak pernah kau sempat menanyakan
Kebaikan apa yang telah kau perbuat untuk mereka
.......

Ketika cita tak lagi bisa diwujudkan mereka
Yang sedang asyik masyuk dengan segala kemewahan
Dan kelenaan di tahta kekuasaan
Harapan terbesar diletakkan dipundakmu wahai pemuda
Dengan gelora kemudaan dan intelektualitas yang kau punya

Wahai Pemuda
Segeralah bangun dari lena yang berkepanjangan 
Dari mimpi yang tak berkesudahan
Saatnya berjuang!
.......

Wednesday, January 16, 2013

[Aku dan Anakku] Banjir

Pagi pukul enam
Biasanya sinar matahari sudah menyelusup di balik dedaunan
Menembus kaca jendela
Biasanya burung-burung sudah bertengger di dahan
Berkicau dengan cicitnya yang basah

Pagi ini pukul enam
Dingin menyergap
Terasa hingga ke tulang
Menggantikan sinar matahari dan cicit burung yang tak kunjung datang

Kuantar anakku ke sekolah
Dengan payung besar di genggaman
Baru beberapa langkah dari rumah dan sepatunya sudah basah
Aku tau dia tak suka kaos kakinya basah
Tapi tak ada suara keluar dari mulutnya

"Kakak ga papa kaos kakinya basah?"
Dia diam saja, mungkin menahan kesal
Sesampai di sekolah kutatap dia yang tetap terdiam
Sambil tertunduk dimainkannya ujung kakinya

"Kakak tau ga di daerah lain airnya lebih tinggi. 
Ada yang sampai paha, ada yang sampai dada, ada yang sampai rumahnya terendam. 
Ada anak seumuran Kakak sampai ga ke sekolah. Baju seragam mereka basah.
Banyak yang mengungsi, meninggalkan rumah. Tidur di kolong jembatan.
Kaos kaki Kakak basah, rok Mama basah, tidak ada apa-apanya kan dibanding mereka?"

Dia masih diam
Lalu segera ditariknya tanganku, diciumnya
"Semoga airnya cepat pergi ya Ma, biar orang-orang itu bisa pulang ke rumah."
Dia memasuki kelas dengan langkah ringan
.......

Monday, January 14, 2013

Pada Sebuah Jembatan Layang

Berdiri di bawah jembatan layang
Tak sampai sepuluh pemuda yang mungkin bukan mahasiswa
Seorang diantaranya berdiri di atas ban
Berteriak dengan suara serak
Meneriakkan entah apa
Tak terdengar jelas meski di mulutnya menempel toa

Dua tiga lainnya berdiri bertelanjang dada
coret-coretan bukan tattoo melekat di badan mereka
Selembar spanduk kecil bertuliskan "Hadiah buat SBY di akhir tahun" mereka bentangkan
Dua tiga lainnya lagi sebentar ngobrol sebentar menyangar-nyangarkan wajah
Di belakang mereka api menjilat-jilati ban yang tak lagi bulat

Asap hitam memeluk jembatan layang
Antrian kendaraan semakin panjang
Api menyala di bawah jembatan dan di mata para pengendara
Dan para demonstran tak beroleh apa-apa kecuali kutuk masyarakat yang hendak bergegas 

.......  

Thursday, November 29, 2012

Santilik Pukul 05.30

Kabut
Belum beranjak
Selimuti pepohonan

Matahari
Mengintip ragu
Dari balik awan hitam

Hamparan tanah
Kosong
Menunggu sawit

Pepohonan
Berdiri tegar
Tanpa daun

Bunga ilalang
Di ujung daun
Pasrah menunggu jatuh

Dua pasang burung
bercengkerama mesra
Di dahan pohon mati


Ayam hutan
Terbang bergegas
Hindari mobil

Semesta
Menggeliat
Memulai hari

Dan kau disana
Sudahkah membuka harimu
Dengan senyuman?

Wednesday, August 15, 2012

Kepada Raja Rimba

Karena kau Raja Rimba ibarat guru bagi para muridmu
Ditiru dan digugu
Maka perhatikan lakumu

Ketika berkesah pilu
Mengaduh sendu
Di hadapan seluruh warga rimbamu
Di depan gajah, buaya, serigala, belalang bahkan semut
Tak kah kau timbang wibawamu?

Jangan heran ketika keledai begitu cengengnya
Jangan bertanya ketika buaya berurai air mata
Hanya karena luka kecilnya

Mereka hanya menirumu!
.......

Jakarta, Maret 2012

Sunday, August 12, 2012

Untitled

Sebelum kita berpisah jauh
Tolong beri aku senyum itu
Yang dulu kulihat ketika pertama bertemu
Yang membuatku diam termangu
Yang kuyakin tak palsu

Jika kelak kembali kita bertemu
Tolong beri aku senyum manismu itu
Yang mampu menghibur di tiap sedihku
Yang membuatku selalu rindu akanmu
Yang tak kutemukan lagi di selainmu
.......

Aku dan Sang Surya

Kemarin aku bertemu Sang Surya
Ketika itu dia begitu bersemangat
Bermurah hati memberi bumi sinar berlimpah-limpah
Dia bilang aku payah, benar-benar payah!
Hanya karena teriknya yang sangat
Energiku terkuras tak bersisa
Pun semangatku ikut menguap
Aku tertuntuk menahan marah
Tanganku terkepal kuat
Aku bilang dia yang bersalah
Benar-benar bersalah
Hanya karena berkuasa
Dengan angkuhnya dia mengambil yang kupunya
Aku jadi kehilangan semua
Dia terbahak
Terpingkal-pingkal hingga nyaris terjungkal
Lalu tiba-tiba dia menghentikan tawa
Menatapku dengan tatapan setajam pedang
Seperti hendak menembus dan mengoyak jantungku
Aku kecut, nyaliku ciut
Badanku menggigil mengkerut

Dia murka!
Suaranya menggelegar
Dia bilang aku makhluk tak berbudi
Tak pernah tau arti terima kasih
Aku hancurkan diri sendiri
Aku rusak semesta
Lalu melempar semua borok padanya
Aku menekur, sadar telah berbuat salah
Lalu bertanya solusi terbaiknya
Tapi katanya sudah terlambat!
Dia bilang tak lagi ada yang dapat kulakukan
Aku gusar
Sia bilang akan balas dendam suatu saat kelak
Aku benar-benar ketakutan, dan tak lagi berdaya
.......

Selamat datang penguasa baru

Pilkada sudah lewat
Pemenang bakal gubernur dan wagub  sudah pula dapat
Rakyat kini menunggu harap-harap cemas
Akankah janji-janji kampanye yang dulu didengungkan
Dan terpampang di baliho-baliho raksasa di hampir tiap ruas jalan
Menjadi nyata sesuai harapan
Atau tetap menjadi janji manis pemanis mulut semata

Sejujurnya aku tak berharap banyak pada Sang Penguasa Baru
Terlalu pesimis untuk percaya pada janji-janji yang terlalu muluk
Tapi aku tetap menunggu
Adakah mereka akan menjadi pahlawan baru
Yang menyelamatkan lingkungan dari sampah yang menggunung dan bau
Dari pembangunan mubazir gedung-gedung raksasa yang tak perlu
Dari pelepasan lahan hijau untuk jadi lokasi perumahan baru

Adakah mereka akan menjadi penguasa bijak
Yang menyelamatkan anak-anak tak berdosa
Dari kebodohan karena dera kemiskinan
Dari cengkeraman penjahat jalanan karena ketidakberdayaan
Dari kebobrokan moral karena banyaknya tuntutan hidup dan lemahnya iman
 
Selamat datang penguasa baru!
Adakah lima tahun mendatang akan kau toreh sejarah baru?
Atau hanya kau ulang sejarang lalu?
......

Makassar, November 2007

Bintang Merah

Tetaplah jadi bintang merahku

Yang selalu ada di tiap malamku

Pun dalam kalbuku

Biar selalu kutatap indahmu
Dari belahan bumi manapun beradaku
.......

Makassar, 2006

Thursday, May 24, 2012

Lelaki di tepi jalan

Duduk bersila
Seorang lelaki tua
Di sudut jembatan penyeberangan
Kedua tangan dirangkum di pangkuan
Tubuh ringkihnya dibungkuk-bungkukkan
Mulut komat kamit dalam gumaman lirih tak jelas
Sebuah kaleng dan bungkusan kresek hitam temani kesendiriannya

Di sudut trotoar
Berselonjor seorang lelaki setengah baya
Tunjukkan kaki yang sebatas betis saja
Sesekali senandungnya terdengar
Ikuti lagu dangdut koplo dari radio di sampingnya
Sesekali dilongoknya kaleng di depannya
Yang baru terisi beberapa lembar rupiah

Berdiri menantang surya
Di sudut taman
Lelaki tak berpakaian
Menatap kosong ke atas sana
Mungkin ke langit, mungkin ke pepohonan
Mungkin ke burung-burung yang berkejaran
Tak bergerak

Seorang anak lelaki belia
Di kaca pintu taksi menempelkan wajah
Jemari mungilnya mengetuk kaca pelan
Tengadahkan tangan tunjukkan wajah memelas
Ketukan dan suaranya
Semakin keras
Kemudian berlalu bersama makiannya
……………
Jakarta, 25 Mei 2012

Thursday, November 17, 2011

Kereta Pukul 17.45


Penumpang berdesakan keluar
Mengingatkanku pada sepotong ayam
Dipenuhi belatung yang bergeliat berbuncah-buncah
Penumpang berjejalan masuk
Sikut sana sini tak mau kalah gesit berebut tempat duduk
Mengingatkanku pada para politisi dan teman-temannya

Segala jenis pedagang
Hilir mudik tak kenal lelah menjajakan dagangannya
Membuatku terkagum-kagum pada keuletan dan kesabaran yang mereka punya
Segala jenis pengemis
Mondar mandir tak kenal lelah menengadahkan tangannya
Memutuskan urat iba yang kupunya

Penumpang di kananku tertidur
Sesekali bahu dan kepalanya tersentak-sentak ke arahku
Mengingatkanku pada boneka leher di mobil sepupuku
Penumpang di kiriku tak hentinya menggoyangkan kaki
Mengingatkanku pada mesin jahit

Penumpang di ujung sana yang tadinya tergelak-gelak
Mendadak tertidur pulas
Ketika seorang perempuan hamil memegang perut berdiri di depannya
Mengingatkanku pada artis-artis ibukota dengan sandiwaranya
Dan pada pemerintah dengan ketidakpeduliannya

Seorang anak meraung dengan suara memekakkan telinga
Memegangi kepalanya yang tadi terbentur dan menikmati sakit bekas cubitan ibunya
Seorang pedagang hilang kesimbangan
Ember di tangannya terjatuh menumpahkan air dan isi lainnya
Mengingatkanku pada seseorang dengan “anggap saja pengaruh luka (robek) di kepala”nya

Langit mulai gelap
Kereta belum juga tiba di tujuan
………..

Jakarta, February 2011

Kau


Memandangmu jauh di depan situ
Berdiri mematung
Dengan diam yang membunuh
Dengan tatapan angkuh
Kurasakan sembilu di hatiku


Wajah tak berdosamu
Senyum manismu
Kata-kata indahmu
Keramahan dan kebaikanmu
Semata topeng untukku


Kupinta yang kau janjikan dulu
Yang kudapat hanya tatapan penuh kebencian itu
Dan diam yang menyesakkan dada itu
Dan keangkuhan yang menyakitkan hati itu
Kusesali bodohnya aku jatuhkan pilihan padamu


Pernahkah kau, sedikit saja, peduli pada deritaku?
Atau setidaknya mengingat diriku?
Tak adakah sedikit sesal dihatimu
Bahwa kau telah menyianyiakan aku
Yang memercayaimu?
………………

Jakarta, Juni 2011