Wednesday, January 3, 2018

Setahun Pergimu

Setahun lalu
Dini hari di kota itu
Berkilo-kilo meter darimu
Aku masih terjaga memandangi laptop dengan hati tak tentu

Aku tahu engkau sedang berjuang melawan sakitmu
Tapi aku tak bergegas pulang padamu
Kupikir ketika tugas negara ini selesai aku masih bisa menemui senyummu
Berada di sisimu, memegang tanganmu meski itu tak meredakan sakitmu

Dan ketika kembali, aku tak menemukan senyummu
Tak mendapat pelukanmu
Tak mendengar tawa senangmu
Yang biasanya menyambutku tiap kali aku ke rumah itu

Kali ini engkau menyambutku sembari tertidur
Dengan selembar kain menutupi sekujur tubuhmu
Sungguh ketika itu aku berharap itu bukan engkau
Aku berharap hanya sedang bermimpi buruk dalam tidurku

Ah betapa penyesalan itu sangat pahit
Dan menahan tangis itu sangat sakit
Dan semua itu tak merubah kenyataan:
Kita berada pada dunia berbeda

Setahun lalu
Dini hari di kota itu
Berkilo-kilo meter darimu
Separuh hatiku pergi bersamamu
....

Setahun berlalu
Aku tetap merindu
Hanya bisa menitipkanmu pada Allah Sang Pemilik Kehidupan
Semoga doa-doaku untukmu diterima-Nya
....
Jakarta, 5 Oktober 2017

Saturday, October 22, 2016

Tentang Kamu

Bahagia itu
Ketika aku berada dekatmu
Memelukmu erat ketika malam terlalu pekat
Dan merasakan hembusan nafasmu di telinga

Marah itu
Ketika engkau sakit keras
Dan seseorang berkata dengan tenangnya
Engkau bukan sesiapa

Luka itu
Ketika aku berada terlalu jauh
Untuk sekedar memelukmu
Ketika engkau mengerang kesakitan

Tenang itu
Ketika aku tau
Engkau tak terlalu berlama dengan derita
Dan pergi dengan lafadz Allah di bibirmu

Ya aku tau
Ketentuan Allah atasmu terbaik buatmu dan buatku
Tapi izinkan aku sedikit saja menyembabkan mata
Ketika ingatan tentangmu datang dan rinduku membuncah
......
Kendari, 22 Oktober 2016

Tuesday, February 9, 2016

Saling Cemburu

Aku mencemburui rumput hijau
Yang tumbuh subur, tertata rapi di halaman rumahmu
Bahkan ketika kutau tak akan pernah memilikinya
Tidak ketika rumahku tak berhalaman

Kamu mencemburui berjenis bunga yang bergelantungan di teras rumahku
Yang ketika mekar wanginya semerbak hingga ke inderamu
Bahkan ketika kamu tau tidak akan pernah memilikinya
Tidak ketika kamu tak menyempatkan waktu menanam memeliharanya
.....

Pangkalpinang, Februari 2016

Sunday, May 17, 2015

45 Menit Bersamamu, Setelah Tujuh Tahun

Kita bertemu
Pada suatu sore yang sendu
Kamu anggun dengan rok batik, kemeja dan kerudung polos warna birumu
Tujuh tahun rasanya begitu cepat berlalu
Ah, senyummu tetap manis seperti dulu

Lima menit pertama kita mengembalikan ingatan
Pada kali terakhir kita bersua
Lima menit berikutnya kita sibuk memilih makanan
Selera kita belum berubah
Lima menit berikutnya kita mengingat-ingat masa ketika kerja di tempat yang sama
Ingatan kita akan tempat itu dan teman-teman lain masih kuat

Lima menit berikutnya kamu mulai membuka tas kecil yang kamu bawa
Sesekali kamu jawab tanyaku dengan suara tak terlalu jelas
Lima menit berikutnya kita mundur lebih jauh ke belakang
Ke masa-masa SMA dengan segala kelucuannya
Kamu tertawa dengan mata menatap ke layar si telepon pintar
Lima menit berikutnya aku mulai mencari telepon genggam di saku celana
Dan mulai mengirim SMS tak penting ke beberapa teman

Lima  menit berikutnya dan berikutnya lagi kita tenggelam
Pada masing-masing layar di depan kita
Kamu sibuk mengunggah foto di media sosial
Aku sibuk mebaca jawaban SMS teman-teman
Keheningan membersamai kita
Kita sama tersenyum sumringah
Kadang bahkan sama tergelak
Pada lelucon orang yang entah dimana adanya

Lima menit berikutnya kita berpisah
Langkah kakimu tergesa
Kamu yang sibuk harus bertemu klien di suatu tempat berbeda
Aku masih melanjutkan pencarian inspirasi di meja yang sama
Ditemani secangkir kopi dan alat tulis yang tergeletak pasrah
Belum tersentuh sejak kuletak disana
Ingin kutulis tentang kamu dan pertemuan kita barusan
Ah, otak tuaku tak berhasil menemukan kesan yang indah
Kecuali pada layar teleponmu yang selalu menyala
.......

Tuesday, December 16, 2014

ilusi

Kamu datang
Sebagai bulan purnama
Di gelap malam
Bagi seekor pungguk
Sepertiku
...






Lhokseumawe, 16 Desember 2014

Monday, November 17, 2014

Anakku dan Bos Asing

"Mama mengapa banyak orang asing di kantor Papa?"
tanya anakku, suatu ketika
"Mereka bekerja disana Nak, jadi bos di kantor Papa"

Sejenak dia terdiam
"Mengapa mereka bekerja di Indonesia?"
"Mereka tak dapat pekerjaan di negara mereka kah Ma?"
Kali ini aku yang terdiam
Mencari kalimat yang tepat untuk anak seusianya
"Karena mereka pintar Nak, kantor Papa butuh mereka"
"Gajinya gede dong ya?" lagi tanyanya
"Tentu saja gede Nak, pakai dollar"
"Pasti jaauh lebih gede dari gaji Papa ya. Pake dollar sih." 
katanya sambil manggut-manggut

Kami masing-masing kembali pada aktivitas semula
Lalu dia memecah sunyi dengan rentetan tanya
"Mengapa bos Papa harus orang asing? Kan bayarnya jadi lebih mahal. Bukannya di negara kita juga banyak orang pintar Ma?"
.....

Wednesday, October 15, 2014

Jika Bahagia Mengapa

Pada Burung Hantu berkata Sang Elang
Dengan gaya pongah, dagu terangkat
Berhentilah merindukan bulan
Dia semata milik malam
Lihat betapa bahagianya aku
Dengan istri dan anak-anakku
Tidakkah kau ingin sepertiku?

Mengangguk kelu Burung Hantu
Semua kata Sang Elang benar adanya
Tapi tak perlu semua, selain dirinya, mengerti tentang Sang Bulan
Mereka hanya melihat apa yang ditampakkan mata
Hanya mendengar yang tertangkap telinga
Dalam hati dijawabnya tanya retorik Sang Elang
Makhluk mana kiranya yang tak ingin bahagia?
.......

Jika bersama Elang Betina benar membuatmu bahagia
Jika memiliki anak-anak sungguh membuatmu bersuka
Mengapa masih kau hadirkan Nuri di harimu?
Mengapa biarkan Merak membersamaimu?
Dan berkali Burung Hantu mengutuk dirinya
Atas pengecutnya
Hanya menggumamkan itu di hati saja
.......