Monday, September 16, 2013

Matinya Idealisme



Sang Suami
Akhirnya terbeli juga
Rumah impian tempat bernaung orang-orang tersayang
Meski menghabiskan lebih dari setengah gaji sebulan
Yang penting orang-orang tak lagi akan memandang sebelah mata

Sang Istri
Anakku tersayang sudah besar
Mulai suka diajak jalan
Membawanya dengan motor rasanya tak nyaman
Risih melihat tatapan tetangga

Sang Suami
Akhirnya terbeli juga
Mobil impian yang akan membawa orang-orang tersayang kemana saja
Meski menghabiskan sisa gaji dan tunjangan sebulan
Yang penting istri anak senang

Sang Istri
Harga bahan pokok meningkat
Susu anak makin mahal
Tabungan hampir tak bersisa
Sakit kepala

Sang Suami
Hampir saja berutang
Betapa malunya
Tertolong dengan amplop pemberian seorang “teman”
Lega

Jakarta, 17 September 2013

Wednesday, January 16, 2013

[Aku dan Anakku] Banjir

Pagi pukul enam
Biasanya sinar matahari sudah menyelusup di balik dedaunan
Menembus kaca jendela
Biasanya burung-burung sudah bertengger di dahan
Berkicau dengan cicitnya yang basah

Pagi ini pukul enam
Dingin menyergap
Terasa hingga ke tulang
Menggantikan sinar matahari dan cicit burung yang tak kunjung datang

Kuantar anakku ke sekolah
Dengan payung besar di genggaman
Baru beberapa langkah dari rumah dan sepatunya sudah basah
Aku tau dia tak suka kaos kakinya basah
Tapi tak ada suara keluar dari mulutnya

"Kakak ga papa kaos kakinya basah?"
Dia diam saja, mungkin menahan kesal
Sesampai di sekolah kutatap dia yang tetap terdiam
Sambil tertunduk dimainkannya ujung kakinya

"Kakak tau ga di daerah lain airnya lebih tinggi. 
Ada yang sampai paha, ada yang sampai dada, ada yang sampai rumahnya terendam. 
Ada anak seumuran Kakak sampai ga ke sekolah. Baju seragam mereka basah.
Banyak yang mengungsi, meninggalkan rumah. Tidur di kolong jembatan.
Kaos kaki Kakak basah, rok Mama basah, tidak ada apa-apanya kan dibanding mereka?"

Dia masih diam
Lalu segera ditariknya tanganku, diciumnya
"Semoga airnya cepat pergi ya Ma, biar orang-orang itu bisa pulang ke rumah."
Dia memasuki kelas dengan langkah ringan
.......

Monday, January 14, 2013

Pada Sebuah Jembatan Layang

Berdiri di bawah jembatan layang
Tak sampai sepuluh pemuda yang mungkin bukan mahasiswa
Seorang diantaranya berdiri di atas ban
Berteriak dengan suara serak
Meneriakkan entah apa
Tak terdengar jelas meski di mulutnya menempel toa

Dua tiga lainnya berdiri bertelanjang dada
coret-coretan bukan tattoo melekat di badan mereka
Selembar spanduk kecil bertuliskan "Hadiah buat SBY di akhir tahun" mereka bentangkan
Dua tiga lainnya lagi sebentar ngobrol sebentar menyangar-nyangarkan wajah
Di belakang mereka api menjilat-jilati ban yang tak lagi bulat

Asap hitam memeluk jembatan layang
Antrian kendaraan semakin panjang
Api menyala di bawah jembatan dan di mata para pengendara
Dan para demonstran tak beroleh apa-apa kecuali kutuk masyarakat yang hendak bergegas 

.......  

Thursday, November 29, 2012

Santilik Pukul 05.30

Kabut
Belum beranjak
Selimuti pepohonan

Matahari
Mengintip ragu
Dari balik awan hitam

Hamparan tanah
Kosong
Menunggu sawit

Pepohonan
Berdiri tegar
Tanpa daun

Bunga ilalang
Di ujung daun
Pasrah menunggu jatuh

Dua pasang burung
bercengkerama mesra
Di dahan pohon mati


Ayam hutan
Terbang bergegas
Hindari mobil

Semesta
Menggeliat
Memulai hari

Dan kau disana
Sudahkah membuka harimu
Dengan senyuman?

Wednesday, August 15, 2012

Kepada Raja Rimba

Karena kau Raja Rimba ibarat guru bagi para muridmu
Ditiru dan digugu
Maka perhatikan lakumu

Ketika berkesah pilu
Mengaduh sendu
Di hadapan seluruh warga rimbamu
Di depan gajah, buaya, serigala, belalang bahkan semut
Tak kah kau timbang wibawamu?

Jangan heran ketika keledai begitu cengengnya
Jangan bertanya ketika buaya berurai air mata
Hanya karena luka kecilnya

Mereka hanya menirumu!
.......

Jakarta, Maret 2012

Sunday, August 12, 2012

Untitled

Sebelum kita berpisah jauh
Tolong beri aku senyum itu
Yang dulu kulihat ketika pertama bertemu
Yang membuatku diam termangu
Yang kuyakin tak palsu

Jika kelak kembali kita bertemu
Tolong beri aku senyum manismu itu
Yang mampu menghibur di tiap sedihku
Yang membuatku selalu rindu akanmu
Yang tak kutemukan lagi di selainmu
.......

Aku dan Sang Surya

Kemarin aku bertemu Sang Surya
Ketika itu dia begitu bersemangat
Bermurah hati memberi bumi sinar berlimpah-limpah
Dia bilang aku payah, benar-benar payah!
Hanya karena teriknya yang sangat
Energiku terkuras tak bersisa
Pun semangatku ikut menguap
Aku tertuntuk menahan marah
Tanganku terkepal kuat
Aku bilang dia yang bersalah
Benar-benar bersalah
Hanya karena berkuasa
Dengan angkuhnya dia mengambil yang kupunya
Aku jadi kehilangan semua
Dia terbahak
Terpingkal-pingkal hingga nyaris terjungkal
Lalu tiba-tiba dia menghentikan tawa
Menatapku dengan tatapan setajam pedang
Seperti hendak menembus dan mengoyak jantungku
Aku kecut, nyaliku ciut
Badanku menggigil mengkerut

Dia murka!
Suaranya menggelegar
Dia bilang aku makhluk tak berbudi
Tak pernah tau arti terima kasih
Aku hancurkan diri sendiri
Aku rusak semesta
Lalu melempar semua borok padanya
Aku menekur, sadar telah berbuat salah
Lalu bertanya solusi terbaiknya
Tapi katanya sudah terlambat!
Dia bilang tak lagi ada yang dapat kulakukan
Aku gusar
Sia bilang akan balas dendam suatu saat kelak
Aku benar-benar ketakutan, dan tak lagi berdaya
.......