Wednesday, October 15, 2014

Jika Bahagia Mengapa

Pada Burung Hantu berkata Sang Elang
Dengan gaya pongah, dagu terangkat
Berhentilah merindukan bulan
Dia semata milik malam
Lihat betapa bahagianya aku
Dengan istri dan anak-anakku
Tidakkah kau ingin sepertiku?

Mengangguk kelu Burung Hantu
Semua kata Sang Elang benar adanya
Tapi tak perlu semua, selain dirinya, mengerti tentang Sang Bulan
Mereka hanya melihat apa yang ditampakkan mata
Hanya mendengar yang tertangkap telinga
Dalam hati dijawabnya tanya retorik Sang Elang
Makhluk mana kiranya yang tak ingin bahagia?
.......

Jika bersama Elang Betina benar membuatmu bahagia
Jika memiliki anak-anak sungguh membuatmu bersuka
Mengapa masih kau hadirkan Nuri di harimu?
Mengapa biarkan Merak membersamaimu?
Dan berkali Burung Hantu mengutuk dirinya
Atas pengecutnya
Hanya menggumamkan itu di hati saja
.......



Saturday, September 6, 2014

Untukmu Pemuda

Bangsa ini sedang sakit parah
Terseokseok karena lukanya
Jangan melihatnya dari luar
Karena dia tampak segar bugar
Dibalut pakaian dan perhiasan mahal
Yang dibelinya dari berutang
Lihat tingkah lakunya, cara berpikirnya, moralnya
Dia sedang sekarat

Rasa malu, entah bagaimana, beranjak menguap
Hampir semua sudut aurat terumbar
Telapak tangan selalu tertengadah
Kreatifitas kejahatan meningkat
Mengambil hak orang lain bukan hal langka
Terjadi dimana-mana
dalam berbagai bentuk rupa

Tak hanya kau lihat di kota
Pun di pelosok desa
Tak hanya dilakukan petinggi negara
Pula masyarakat biasa
Terangterangan
Berjamaah

Ketika kau, wahai pemuda, hanya menambah sakit dan membuat luka itu semakin parah
Dengan sikapmu yang kekanakan, langkahmu yang penuh kesombongan
Otak yang tak kau gunakan berpikir panjang,
mata yang terbelalak tapi tak melihat tak membaca
Mampukah bangsa ini melewati masa kritisnya?

Sibuk kau salahkan para tetua
Atas ketakmampuan mereka menjadikanmu manusia
Sibuk kau salahkan pemerintah dan negara
Atas ketidakadilan dan kesewenangwenangan yang katanya kau rasa
Tak pernah kau sempat menanyakan
Kebaikan apa yang telah kau perbuat untuk mereka
.......

Ketika cita tak lagi bisa diwujudkan mereka
Yang sedang asyik masyuk dengan segala kemewahan
Dan kelenaan di tahta kekuasaan
Harapan terbesar diletakkan dipundakmu wahai pemuda
Dengan gelora kemudaan dan intelektualitas yang kau punya

Wahai Pemuda
Segeralah bangun dari lena yang berkepanjangan 
Dari mimpi yang tak berkesudahan
Saatnya berjuang!
.......

Monday, September 16, 2013

Matinya Idealisme



Sang Suami
Akhirnya terbeli juga
Rumah impian tempat bernaung orang-orang tersayang
Meski menghabiskan lebih dari setengah gaji sebulan
Yang penting orang-orang tak lagi akan memandang sebelah mata

Sang Istri
Anakku tersayang sudah besar
Mulai suka diajak jalan
Membawanya dengan motor rasanya tak nyaman
Risih melihat tatapan tetangga

Sang Suami
Akhirnya terbeli juga
Mobil impian yang akan membawa orang-orang tersayang kemana saja
Meski menghabiskan sisa gaji dan tunjangan sebulan
Yang penting istri anak senang

Sang Istri
Harga bahan pokok meningkat
Susu anak makin mahal
Tabungan hampir tak bersisa
Sakit kepala

Sang Suami
Hampir saja berutang
Betapa malunya
Tertolong dengan amplop pemberian seorang “teman”
Lega

Jakarta, 17 September 2013

Wednesday, January 16, 2013

[Aku dan Anakku] Banjir

Pagi pukul enam
Biasanya sinar matahari sudah menyelusup di balik dedaunan
Menembus kaca jendela
Biasanya burung-burung sudah bertengger di dahan
Berkicau dengan cicitnya yang basah

Pagi ini pukul enam
Dingin menyergap
Terasa hingga ke tulang
Menggantikan sinar matahari dan cicit burung yang tak kunjung datang

Kuantar anakku ke sekolah
Dengan payung besar di genggaman
Baru beberapa langkah dari rumah dan sepatunya sudah basah
Aku tau dia tak suka kaos kakinya basah
Tapi tak ada suara keluar dari mulutnya

"Kakak ga papa kaos kakinya basah?"
Dia diam saja, mungkin menahan kesal
Sesampai di sekolah kutatap dia yang tetap terdiam
Sambil tertunduk dimainkannya ujung kakinya

"Kakak tau ga di daerah lain airnya lebih tinggi. 
Ada yang sampai paha, ada yang sampai dada, ada yang sampai rumahnya terendam. 
Ada anak seumuran Kakak sampai ga ke sekolah. Baju seragam mereka basah.
Banyak yang mengungsi, meninggalkan rumah. Tidur di kolong jembatan.
Kaos kaki Kakak basah, rok Mama basah, tidak ada apa-apanya kan dibanding mereka?"

Dia masih diam
Lalu segera ditariknya tanganku, diciumnya
"Semoga airnya cepat pergi ya Ma, biar orang-orang itu bisa pulang ke rumah."
Dia memasuki kelas dengan langkah ringan
.......

Monday, January 14, 2013

Pada Sebuah Jembatan Layang

Berdiri di bawah jembatan layang
Tak sampai sepuluh pemuda yang mungkin bukan mahasiswa
Seorang diantaranya berdiri di atas ban
Berteriak dengan suara serak
Meneriakkan entah apa
Tak terdengar jelas meski di mulutnya menempel toa

Dua tiga lainnya berdiri bertelanjang dada
coret-coretan bukan tattoo melekat di badan mereka
Selembar spanduk kecil bertuliskan "Hadiah buat SBY di akhir tahun" mereka bentangkan
Dua tiga lainnya lagi sebentar ngobrol sebentar menyangar-nyangarkan wajah
Di belakang mereka api menjilat-jilati ban yang tak lagi bulat

Asap hitam memeluk jembatan layang
Antrian kendaraan semakin panjang
Api menyala di bawah jembatan dan di mata para pengendara
Dan para demonstran tak beroleh apa-apa kecuali kutuk masyarakat yang hendak bergegas 

.......  

Thursday, November 29, 2012

Santilik Pukul 05.30

Kabut
Belum beranjak
Selimuti pepohonan

Matahari
Mengintip ragu
Dari balik awan hitam

Hamparan tanah
Kosong
Menunggu sawit

Pepohonan
Berdiri tegar
Tanpa daun

Bunga ilalang
Di ujung daun
Pasrah menunggu jatuh

Dua pasang burung
bercengkerama mesra
Di dahan pohon mati


Ayam hutan
Terbang bergegas
Hindari mobil

Semesta
Menggeliat
Memulai hari

Dan kau disana
Sudahkah membuka harimu
Dengan senyuman?

Wednesday, August 15, 2012

Kepada Raja Rimba

Karena kau Raja Rimba ibarat guru bagi para muridmu
Ditiru dan digugu
Maka perhatikan lakumu

Ketika berkesah pilu
Mengaduh sendu
Di hadapan seluruh warga rimbamu
Di depan gajah, buaya, serigala, belalang bahkan semut
Tak kah kau timbang wibawamu?

Jangan heran ketika keledai begitu cengengnya
Jangan bertanya ketika buaya berurai air mata
Hanya karena luka kecilnya

Mereka hanya menirumu!
.......

Jakarta, Maret 2012